Sabtu, 20 Maret 2010

Lembayung Sore

Lembayung senja sore tadi
dibungkus mendung dan gerimis.
Pulau-pulau menangis meratapi pancaroba tak berujung
seperti diselimuti nuansa mistis.
Pengembara kehilangan jejak
dan bingung menghitung persimpangan
karena kosong yang tragis.

Lagu Ibu dinyanyikan
dengan kelopak hati yang rusak
bersama hidungmu yang terus membengkak
saat gejolak rindu akan cita-cita pudar ditelan ombak.
kau paksa semua semakin terkoyak
dalam gelombang kepalsuan yang membuat muak.

aku akui, Sungguh dahsyat pengakuan iblis !
ketimbang kau yang mengaku malaikat ksatria
tapi jiwamu bencong.
kau takut pada badai dan teriakan generasi.
kau lebih pantas jadi keong
yang merangkak dikawasan peternakan gajah



SWB
Januari 2010

Abu-abu

Pagi turun lagi disini
saat Kelelawar mulai ngantuk.
Corak hujan sulit terbaca
dalam bulan tak jelas suara dan cerita.

Ada Manusia menjadi truk gandeng berbentuk reptil
menabrak Pejalan kaki,
menggilas dengan bengis dan sadis
tanpa peduli isak tangis.

Pengembara yang mencatat raut senja
terdiam bisu didepan asbak
karena senyum senja juga tak terbaca
dan abu-abu serupa isi asbak.

Bunyi lonceng semakin keras
tanda mereka yang mati dalam hidup
menjelma tikus rakus
dihadapan Tuhan
yang selalu dijadikan batu pelarian.

Dan orang-orang suci membuka jalan
menuju jawaban teka-teki
kepada Generasi yang tak mengerti basa-basi
tentang Negeri yang hatinya terbakar api.

Disini, di Pulau ini,
ekarang dibuka pendaftaran Relawan
yang punya hati untuk menghapus
air mata Ibu yang suci
dan membuatnya tersenyum kembali



SWB
Surabaya, pertengahan Januari 2010

Harus Dikupas

Jiwa mana yang rela melihat cintanya terkoyak,
sedang talangan sungai belum selesai dihitung.

Diantara kepingan perih yang mampir
pada lembaran malam-malam kita,
ada yang harus diusap segera.
bercak becek yang menempel dicermin kita.

Jangan terlalu lama tenggelam dalam isak kehilangan.
jangan sampai mimpi kita digulung waktu.
Kalbu yang dibungkus mendung akan dihapus cahaya bulan,
karena lelaki itu telah mengumandangkan Alif dikuping hati matahari.

Karena kenyataan harus dikabarkan
maka harus kita kupas semua isyarat yang tersirat,
agar padang hijau kita semakin sedikit durinya.
Ikhlaskan kepergiannya karena kuncinya ada ditelapak kaki Ibu.



Syarif Wadja Bae
awal Januari 2010

Abdi

Gelombang kali ini
mengingatkan kita tentang abdi.

Gelombang kali ini
bukan pertanyaan yang harus kita jawab
dengan membusungkan dada.

Gelombang kali ini adalah hakikat padi,
ruang cermin, dan aksara mata batin.


Ini gelombang menampar kita
dengan bunga cinta.
Mencubit kita dengan rasa jijik paling indah
yang selama ini kita lupa..

Harusnya kita paham tentang kehadiran kita
disetiap Lekuk aliran gelombang kali ini.
Gelombang tak pernah putus.
gelombang kali ini bagai senyum pelangi
yang menempel pada dinding gelap yang kita buat.
ini gelombang

Gelombang ini mengantarkan kita
pada tikungan dengan teks yang besar.



SWB
Desember 09

Keruh

bagai sua hujan dalam selokan
mereka tak takut karma sejarah
tentang bohong mereka pada kahanan

tinggal riwayat yang disiram comberan
berselimut daki dalam rupa dasi
dengan kemasan basi

Tuhan redupkan lampu
dalam kalbu dan hidup mereka
hanya naif dan latah
dalam alinea munafik yang panjang
padahal Tuhan tak pernah pergi
dari nadi
seolah tak ada cermin
sementara
disana ada penyair
yang menjadi Dewa
penyair yang tak pernah
ke pasar dan terminal

saban hari di kampus-kampus
semakin banyak Mahasiswa
yang belajar menjadi buaya
tanpa peduli pada air mata ibu
yang mereka injak berkali-kali

seperti binatang jalang
yang riang menjahit orasi
dalam ramai
dengan keserakahan

apa ini kado untuk generasi ?
kado kalatida dan kalabendu
yang dikencingi pupa


SWB
November 2009

Kamis, 19 November 2009

sajak rindu

serupa satu lembar halaman buku aku datang padamu
dan mungkin belum sebait kita menulisnya
segala kisah keluar bersama hembus nafas kita
saat gelap malam mendekap buih ombak kecil dan sepoi di jembatan itu

kau sapa dengan senyum dibalik aksara-mu
kala embun dan rumput dibungkus puisi dendang pagi
tentang sua yang kita inginkan dalam sehari

pada sungai kecil kita mengalir
perlahan bertemu dan melewati talangannya

kala kau rebah di dadaku
dari matamu mengalir kejujuran
setiap penggalan episode yang sirna
dengan cara paling santun kuhapus
setiap tetes sadarmu
dan kau tak habis pikir:
semuanya tumpah dihadapanku
saat matahari marah pada kota
saat hari ke empat ditempat tidurku

pada setiap jeda kutuntun gelisahmu
dalam ruang sederhana dengan desau makna baca

dua bibir menyatu sebelum kemuning senja
dalam panggung kecil
kita lalui detik yang mendetak
dengan tubuh kita yang menjelma sajak

disetiap akhir denting piano
disetiap akhir lagu
kita selalu menginginkan itu

cinta itu
serupa
persetubuhan
embun dan rumput
sebelum siang yang garang

gadis kecil
berpayung pilu
berdirilah selalu
dengan jernihnya kalbu


Syarif Wadja Bae
17 Nov 2009 dini hari

Rabu, 11 November 2009

Awas Ibu Marah

senandung langit mengibas senyum sinis
hati yang dilahap keakuan akal.
seketika ludahmu ingin menampar lakumu
yang merobek ujung malam saat ayam jantan
menunggu giliran kumandangkan pagi yang jernih
yang siap kau kotori lagi.

sampah hari ini sedang menyimpan dendam padamu.
gergaji-gergaji mencatat disetiap kelok
tentang semua ucap yang kau ingkar.
binatang-binatang tanah sepakat untuk puasa,
dan bau mulut mereka membakar hidung
karena tak sabar mengunyah bangkaimu sedikit demi sedikit.

kau gotong nama Ibumu untuk berbohong
pada semua yang ada dalam keadaan.
seolah apa saja adalah kehendakmu.
sekalipun tak pernah terbesit karma dibenakmu.
ketahuilah, sang waktu sedang menanti saat
untuk merobohkan akumu.
dan kau akan merasakan lukamu yang terbungkus sepi.
kau wajar dicaci-maki para Pahlawan.

satu hal lagi;
awas Ibu marah


Syarif Wadja Bae
10 November 2009