Minggu, 04 Oktober 2009

SENJA DI AWAN

Saat awan mengecup senja.
Perlahan gelap, menuju malam.
Sebuah cerita singkat kampung halaman ditelan bersama hilangnya terang.

Hanya sedikit yang tertuang dalam cangkir kalbu ini.
Sedikit yang sangat membekas.



Syarif Wadja Bae
*28 Sept 09

AYO MAJU

Apa tidak ada yang baru, yang tidak membuat otak jadi buntu?
Otakmu buntu bukan karena aku..
Tapi karena kamu kaku, ragu, dan lama tenggelam dalam bisu.
Diam itu tak akan jadi emasmu kalau kamu tak bertanya dan berkaca pada lubuk sanubarimu.

Orang-orang berani bergumul dengan deru.
Orang-orang telah mengerti bahasa debu.
Tapi kau ?

Dengar aku; beberapa bulan lalu,..
Saat aku menerobos keluar dari ruang itu,
Aku selipkan kunci yg sama di kotak kayu di samping pintu itu.
Ayo kawan, sekarang saatnya kita maju !!


Syarif Wadja Bae
Di Atas Kereta Api Gumarang saat berhenti di Semarang
16 September 2009

YANG MELENGKAPI

Seperti sempurnanya lagu yang kau nyanyikan,
sajak itu begitu mengendap jauh kedalam cahaya mata rasa.
Untuk keseratus kalinya peraduan itu terus membuat kita berkaca pada laut dan tanah.
Semoga kita tak saling mencuri kemurnian.
Sudah terlalu banyak novel yang menulis tentang penghianatan.

Jangan pernah kita sepakat untuk membangun piramida disetiap orde.
Mari kita bersekutu dengan waktu, menyatukan pendapat dengan musim, membungkus keadaan dengan senyum cemerlang, hingga sedih tak mau datang lagi.
Mungkin bagi mereka tidak berwarna, tapi dengan begitu kita punya warna sendiri.
Warna yang tak bisa dibeli.

Syarif Wadja Bae
Sept 09

Minggu, 06 September 2009

Begitu Saja

Percikan kata-kata berhamburan hingga beranda.
Bersama sebuah kotak kecil diantara barisan bunga.
Dalam satu detik jeda.
Terlahir dari titik pusat serupa simalakama.
Karena mata.
Lalu lupa begitu saja.
Cepat atau lambat, keheningan akan membuat kita merinding dan kembali mengingat semua

syarif wadja bae
Agustus 2009

Yang Sederhana


Meresapi nuansa rumah indah dan wangi.
Kembali pada suatu waktu kami bercumbu dalam lingkaran sederhana dengan kolak pisang kesukaan keluarga.
Bapak bercerita tentang hikmah makan bersama, sembari melirik ke arahku yang masih ngantuk karena sedikit repot untuk bangun pada pukul tiga saat sahur pertama tiba.

Rumah kami rumah yang kaya, bukan kaya harta, tapi kaya hati untuk berbagi dengan kerabat keluarga, terutama saat puasa.
Rumah kami rumah yang megah, bukan megah karena mewah, tapi megah oleh senyum yang merekah sebagai sedekah. Rumah itu bagai magnet untukku.
Aku ingin buka puasa dan lebaran di sana.
Di rumah itu bertebaran melati yang kami petik dari langit hati Orang Tua kami.

Mama, Bapak, Kakak, Ponakanku yang manis, sahabat dan teman-teman semua, maaf lahir bathin. Mari kita Puasa

syarif Wadja Bae

Jumat, 2009 Agustus 21

Masih Retorika ?

Sudahkah semua bisa tersenyum dengan tulus tanpa tersendat oleh lapar, dan tangis karena ketidakadilan?
Ampun TUHAN !
kami tak mau lagi ada bencana

Syarif Wadja Bae
Terminal Blok M
Minggu, 16 Agustus 2009

Dagangan Corong

Jenuh aku mendengar hasutan dari jantungmu yang berdebar cepat tak beraturan.
Aku tau, kau bahkan ingin memelukku dengan nafas lelahmu yg bernafsu untuk membentuk opini dan wacana celaka dengan mengusung prinsip dan moral yang kacau, yg kau jalankan saat Ibu-Ibu waspada terhadap anak-anak mereka yang beranjak dewasa.
Kau corong yang tak berguna.
Lebih berguna corong bensin dan minyak tanah bagi Tukang ojek, Sopir angkot, dan Penjual gorengan.
Kau menyesatkan !!

Awal Agustus 09