Selasa, 25 Juni 2013

Catatan Langkah

Kita menjelma serbuk arang. Menetaskan tegang dari lidah kita. Jangan gagap dengan keadaan ini. Bebaskan pikiranmu berkelana dalam alur kodrat. Sesekali kita Membara seperti matahari merobek pori-pori. Mari kita Petik segala yang kita muntahkan pada debat. Ini bukan luka, tapi ini catatan langkah. Yang didalamnya terselip ilmu makna. Di lingkaran ini, kita bangun. Tentu ada resiko bila terpeleset. Teori memang penting, tapi akan lebih penting jika berguru pada keadaan. Desember 2010

Setelah 14 Tahun

Seperti burung mabuk terbang dengan kicauan menguburkan sejarah Dimakan pesona basi yang mereka ciptakan sendiri dalam ruang cermin yang tak beguna karena mata sudah menjadi hiasan muka 16 Mei, 2012.

Rabu, 11 Agustus 2010

Terima Kasih

Guci kosong menunggu diisi.
setelah diisi menunggu ditimbang.
lalu ditumpahkan Kedalam bilik putih.
kemudian guci kosong lagi.
selalu begitu. berulang-ulang.
Sebaiknya aku hancurkan saja guci itu.
bukan karena tak mau ditimbang.
Tapi aku ingin jadi guci untuk apa yang terisi dalam diri ini.
Agar aku tau pasti, tentang apa yang ditumpahkan kedalam bilik putih.
Karena bilik hitam beserta isinya telah menamparku.


11 Agustus 2010 – 1 Ramadhan 1431H
Syarif wadja bae

Jumat, 02 Juli 2010

SAKSI

Kau bawa nada api pada senja kelam
menatap jingga dengan diam
untuk apa merengut
hanya karena tembang api yang ribut

tatkala angan tertiup
sebuah sajak maaf mengecup

ragam rasa menjadi nyanyian
melebur dalam lingkar lengan
merdu nada hatimu kurasa
ada kalanya kita kesepian!
Sekejap, semburat memecah gundah.
Terbungkus ruang dengan rupa surga dan neraka.
Pada kalbu yang yang dihiasi melati dan kawat duri
namaMU tetap kuhayati dalam nadi
dalam dosa dan pahala yang jadi saksi


Syarif Wadja Bae
Juni 2010

ingkar

Syarif Wadja Bae

Di antara kepingan perih,
Kau tambahkan gumpalan gelap yang membungkus api didadamu untuk dendam yang tak pernah usai.

Goresan luka semakin lebar di kalbu yang lapar akan hak.
Kalbu dengan darah yang membentuk mawar.
Semburat ke pintu langit.
Berteriak hingga serak.

Sebelum kau buat perjanjian, ajaklah egomu bersepakat dengan hatimu.
Renungkan, jika seandainya hakmu dirampas.
Terkutuk kau !!!

*Juni 2010

Binar Kesepian

Syarief Wadja Bae

Kesepian tumpah berserakan
bahkan becek dan memecah arah.
Pada relung pagi daun-daun berbisik
tentang kabut yang beranjak menutupi
tikungan tempat lahir aksara
yang membakar menit jika saja
sedikit gesekan terjadi
dan perang akan jadi akibat

Kunang-kunang menutup diri
dengan payung hitam
mengibar niat untuk menembus pagi
karena belum usai membekali kupu-kupu
pembawa tinta yang dikirim
untuk kertas-kertas dalam bilik abu-abu

Tak mau hanya dengan mengalir saja
tanpa memahami lubang-lubang
yang menjadi tempat menampung
dan mengendapkan segala aku
yang bisa mengakar lagi,
membuat isi kepala berjamur taring
hingga mata buta karena gagal
merekam mekar mawar yang dibungkus
binar kejujuran

Semua akan rugi bila yang dibangun
tiba-tiba menjelma fatamorgana.
Bersekutulah dengan musim
agar paham dan bertahan sampai
tujuan tanpa tameng yang disulap otak
untuk membangunkan penyakit lama


Maret 2010

Sabtu, 20 Maret 2010

Ini Rambu Zaman

aku bungkus kalimatmu
lalu aku timbang,
bobotnya bertambah,
tapi setelah aku telaah,
kata demi kata,
ternyata
tidak kutemukan pelangi disana.
aku hanya mendapatkan kuncup bunga.
harumnya jelas terasa
dan membuatmu
ingin segera memetiknya,
namun kau harus sabar,
karena belum waktunya.
biarkan dia seperti padi
yang menjadi cerminmu.

kubaca lagi tulisanmu.
kemudian aku simpulkan,
sebenarnya jalan kita sama
hanya saja cara kita beda
dalam memahami rambu-rambu
di sepanjang jalan itu.
tapi tak apa,
yang penting kita paham
dan bisa melewatinya
hingga bersua
pada tujuan yang sama.

o'iya hati-hati,
di jalan itu
banyak berserakan
bungkusan kalimat,
terlebih kalimat bisu
dan dahaga,
bahkan keadaannya
hampir menyerupai
cerita tentang zaman Ibrahim


SWB
Maret 2010