Seperti sempurnanya lagu yang kau nyanyikan,
sajak itu begitu mengendap jauh kedalam cahaya mata rasa.
Untuk keseratus kalinya peraduan itu terus membuat kita berkaca pada laut dan tanah.
Semoga kita tak saling mencuri kemurnian.
Sudah terlalu banyak novel yang menulis tentang penghianatan.
Jangan pernah kita sepakat untuk membangun piramida disetiap orde.
Mari kita bersekutu dengan waktu, menyatukan pendapat dengan musim, membungkus keadaan dengan senyum cemerlang, hingga sedih tak mau datang lagi.
Mungkin bagi mereka tidak berwarna, tapi dengan begitu kita punya warna sendiri.
Warna yang tak bisa dibeli.
Syarif Wadja Bae
Sept 09
Minggu, 04 Oktober 2009
Minggu, 06 September 2009
Begitu Saja
Percikan kata-kata berhamburan hingga beranda.
Bersama sebuah kotak kecil diantara barisan bunga.
Dalam satu detik jeda.
Terlahir dari titik pusat serupa simalakama.
Karena mata.
Lalu lupa begitu saja.
Cepat atau lambat, keheningan akan membuat kita merinding dan kembali mengingat semua
syarif wadja bae
Agustus 2009
Bersama sebuah kotak kecil diantara barisan bunga.
Dalam satu detik jeda.
Terlahir dari titik pusat serupa simalakama.
Karena mata.
Lalu lupa begitu saja.
Cepat atau lambat, keheningan akan membuat kita merinding dan kembali mengingat semua
syarif wadja bae
Agustus 2009
Yang Sederhana
Kembali pada suatu waktu kami bercumbu dalam lingkaran sederhana dengan kolak pisang kesukaan keluarga.
Bapak bercerita tentang hikmah makan bersama, sembari melirik ke arahku yang masih ngantuk karena sedikit repot untuk bangun pada pukul tiga saat sahur pertama tiba.
Rumah kami rumah yang kaya, bukan kaya harta, tapi kaya hati untuk berbagi dengan kerabat keluarga, terutama saat puasa.
Rumah kami rumah yang megah, bukan megah karena mewah, tapi megah oleh senyum yang merekah sebagai sedekah. Rumah itu bagai magnet untukku.
Aku ingin buka puasa dan lebaran di sana.
Di rumah itu bertebaran melati yang kami petik dari langit hati Orang Tua kami.
Mama, Bapak, Kakak, Ponakanku yang manis, sahabat dan teman-teman semua, maaf lahir bathin. Mari kita Puasa
syarif Wadja Bae
Jumat, 2009 Agustus 21
Masih Retorika ?
Sudahkah semua bisa tersenyum dengan tulus tanpa tersendat oleh lapar, dan tangis karena ketidakadilan?
Ampun TUHAN !
kami tak mau lagi ada bencana
Syarif Wadja Bae
Terminal Blok M
Minggu, 16 Agustus 2009
Ampun TUHAN !
kami tak mau lagi ada bencana
Syarif Wadja Bae
Terminal Blok M
Minggu, 16 Agustus 2009
Dagangan Corong
Jenuh aku mendengar hasutan dari jantungmu yang berdebar cepat tak beraturan.
Aku tau, kau bahkan ingin memelukku dengan nafas lelahmu yg bernafsu untuk membentuk opini dan wacana celaka dengan mengusung prinsip dan moral yang kacau, yg kau jalankan saat Ibu-Ibu waspada terhadap anak-anak mereka yang beranjak dewasa.
Kau corong yang tak berguna.
Lebih berguna corong bensin dan minyak tanah bagi Tukang ojek, Sopir angkot, dan Penjual gorengan.
Kau menyesatkan !!
Awal Agustus 09
Aku tau, kau bahkan ingin memelukku dengan nafas lelahmu yg bernafsu untuk membentuk opini dan wacana celaka dengan mengusung prinsip dan moral yang kacau, yg kau jalankan saat Ibu-Ibu waspada terhadap anak-anak mereka yang beranjak dewasa.
Kau corong yang tak berguna.
Lebih berguna corong bensin dan minyak tanah bagi Tukang ojek, Sopir angkot, dan Penjual gorengan.
Kau menyesatkan !!
Awal Agustus 09
Kamis, 06 Agustus 2009
Di Surga Dunia yang Ter,..
Tempat yg mereka sebut surganya surga dunia itu kembali berdebu tebal, debunya melebihi tebal kulit badak.
Di surganya dunia itu Ibu-Ibu kembali menangis hingga airmata mereka kering, bercampur debu di pipi dan membungkam bibir manis mereka.
Pertanyaan unik kembali mereka sebut; kenapa di tempat yg orang-orang sebut surganya dunia ini dipadati teka-teki berbisa?
Sementara di balik layar sana, aktivis calo tersungging dengan dokumen palsu yg berisikan jutaan teka-teki yg tigabelas kali lipat lebih berbisa yg belum ditandatangani oleh sang penebar senyum pada Ibu-Ibu tadi.
Sebelumnya, dari tempat datangnya mentari di surganya dunia itu, tercium bau logam yg beratus-ratus windu berubah menjadi bau darah yg menempel pada belati yg merobek-robek jingga sanubari mereka yg selalu sabar akan pemerkosaan terhadap prinsip yg berulang-ulang.
Aku ingat cerita temanku tentang amarah bapaknya yg mengatakan; di surganya dunia itu sebaiknya penghuni yg telah berusia dewasa hingga yg paling tua dibunuh semua, agar yg hidup dan tinggal disitu hanya remaja & anak2 yg tidak tahu segala macam teka-teki berbisa.
Tapi aku heran, kenapa di surganya dunia itu sering terjadi kekacauan? Dan kenapa bapak dari temanku tadi berkata begitu?
Bukannya surga tempat yg teraman, tertentram, terindah dan segala yg paling ter, yg positif untuk umat manusia? Apa harus tanya kenapa?
Syarif Wadja Bae
Juli 2009
Di surganya dunia itu Ibu-Ibu kembali menangis hingga airmata mereka kering, bercampur debu di pipi dan membungkam bibir manis mereka.
Pertanyaan unik kembali mereka sebut; kenapa di tempat yg orang-orang sebut surganya dunia ini dipadati teka-teki berbisa?
Sementara di balik layar sana, aktivis calo tersungging dengan dokumen palsu yg berisikan jutaan teka-teki yg tigabelas kali lipat lebih berbisa yg belum ditandatangani oleh sang penebar senyum pada Ibu-Ibu tadi.
Sebelumnya, dari tempat datangnya mentari di surganya dunia itu, tercium bau logam yg beratus-ratus windu berubah menjadi bau darah yg menempel pada belati yg merobek-robek jingga sanubari mereka yg selalu sabar akan pemerkosaan terhadap prinsip yg berulang-ulang.
Aku ingat cerita temanku tentang amarah bapaknya yg mengatakan; di surganya dunia itu sebaiknya penghuni yg telah berusia dewasa hingga yg paling tua dibunuh semua, agar yg hidup dan tinggal disitu hanya remaja & anak2 yg tidak tahu segala macam teka-teki berbisa.
Tapi aku heran, kenapa di surganya dunia itu sering terjadi kekacauan? Dan kenapa bapak dari temanku tadi berkata begitu?
Bukannya surga tempat yg teraman, tertentram, terindah dan segala yg paling ter, yg positif untuk umat manusia? Apa harus tanya kenapa?
Syarif Wadja Bae
Juli 2009
Jumat, 03 Juli 2009
MUAK
Pada suatu senja kulihat suasana penuh ambigu ditengah pilu yg menjadi pengalaman bisu berulang-ulang. berkumpul di lapangan dikelilingi bendera-bendera palsu. Tiba-tiba debu berputar-putar berbentuk kerucut terbalik menghisap semuanya, menembus bumi tapi susahnya setengahmati. Beberapa kali terpental keatas, ditolak muntah bumi berupa do'a veteran & generasi yg tersakiti oleh senjata api & janji-janji. Gemetar kantung mataku. Sekuat tenaga, aku berteriak; ASU !!!
Syarif Wadja Bae. Sabtu, 20 Juni,
di rumah MAINTEATER - Antapani - Bandung
Syarif Wadja Bae. Sabtu, 20 Juni,
di rumah MAINTEATER - Antapani - Bandung
Langganan:
Postingan (Atom)