Senin, 01 Juni 2009

talangan sungai yang kesekian kalinya

pada talangan sungai yang belum selesai kuhitung,
kau datang dengan isak tarianmu sambil membawa debu sembilan kantung.
dari embun, bara, dan air mata, debu itu kau kumpul setelah menyaksikan hancurnya sebuah kampung, yang membuat cekung pipimu berubah menjadi relung yang murung.
satu episode kembali memaksa bibirmu bingung dan matamu mendung.
arloji dan kalender mengepung kepalamu hingga kau terkurung.
tanya yang sama kembali kau ucap: kenapa kita selalu mau dijadikan kacung??


Syarif Wadja Bae
Mei 2009

Jumat, 15 Mei 2009

Terkamu Keliru

Kau yang selalu menyala dibalik tirai mataku, menerka dari belakang kacamu tentang sepiku. padahal sepiku telah pergi bersama kesunyian pada sekian teluk yang kutemui dalam jalanku kesini bersama kapal yang berselimutkan corak musim yang menempel tebal pada dinding - dinding pilu. yang kau terka itu cuma perhentian sejenak. seperti mati dalam sepuluh detak.

Dan kemudian berlari kembali dengan kencang bersama roda yang diiris miris pada jalan tragis. setelah itu amarahmua melotot, melompat kearah mereka yang bercanda dengan kaos Tuhan atas tampilan acak yang kau anggapa penat.


Syarif Wadja Bae
awal mei 2009

Jumat, 08 Mei 2009

2009, 09 Mei

sebelah hati itu pergi.
masuk kedalam ruang berisi.

awan berlari pada gelap biru menuju pagi.

dari ruang sepi, kutulis ini.
tentang sisa tali. yang tersangkut disebelah hati yang sunyi



Syarif Wadja Bae

Rabu, 15 April 2009

kata - kata ini untukmu

tenggelamlah dalam samudra bening.
dan berikan tanda disana. tanpa merusak beningnya.
terserah, apa yang kau rangkai disana.
tetaplah hati-hati karena itu.. samudra. walau bening.
kalau bingung, bacalah puisi tentang kapas dan karma.
selimuti dengan angklung. biarkan angin yang memandumu.
karena aku tau kau tak bisa memainkan angklung.
kemudian pelan-pelan pejamkan matamu. lalu,
satukan bening matamu dengan bening samudra itu.
tetap hati-hati yaa.. (kalau bingung lagi, sebut namaku)


syarif wadja bae
april 2009

Jumat, 20 Maret 2009

dialog anak panah

daun yg hampir remuk...seratnya tersenyum,melempar asa untuk bertahan saat pancaroba tiba..senyumnya biasa,namun sukmanya seolah menarik kedua lenganku yg menjepit kepalaku yg diamuk palu...hehehe..:) hai daun remuk yg seratnya buatku tersenyum...aku ingin kita bicara tanpa takut pada waktu walau malam ingin menutup kelambu...tanpa siapa2...disana...ditempat
yg membuat aku dan kau terbuai..bicara tak kenal lelah atas apa yg terbaca pada setiap apa yg buat kita hampir nyerah dan pasrah...mari kita bicara...terus bicara...hingga kau memanggilku; lelaki yg mampu keluar dari amukan palu....dan kau kembali menjadi daun muda...karena peraduan kharisma...:):)


syarif wadja bae//200309//

Sabtu, 14 Maret 2009

Kementus



baru saja kita sama sepakat untuk berterus terang pada PhiloSophia, namun kau masih selalu bergantung dan mengharapakan bantuan Tuhan..bahkan berteriak-teriak kepadaNYA....
lalu, apa kau paham dengan ungkapanmu kepada PhiloSophia???
kenapa harus selalu berteriak pada Tuhan? sementara DIA sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi, lebih dekat dari darah yang mengalir dalam dirimu, dan lebih dekat dari nafas yg kau hirup!! dan itu bukan sebuah metafora belaka!!.
saat kau diterpa masalah, kau selalu berteriak; Tuhan tolong, aku ada Masalah, keluarkan aku dari masalah ini Tuhan.... tapi kenapa kau tidak berteriak; wahai masalah aku yakin bisa mengatasimu karena Tuhan selalu bersamaku walau aku juga sedang bersama dosa....

aku tidak mengatakan kau salah, tapi kau selalu terjebak oleh logikamu yg menjadikanmu naif... kemudian kau tambahkan dengan nalar matematikamu, yang kau sebut itu semua berangkat dari kalbumu.....hahaha:) kementus!!



Syarif Wadja Bae
14 Maret 2009

Minggu, 08 Maret 2009

Amiin:)

diawali dengan senyum saat memulai suatu awal yg baik di awal pekan saat awal haul Sang Rasul yg mengawali dibukanya segala cerita tentang semua awal dan ihwal cahaya yg awal...........................
semoga tetap di awal...:)

S.Wadjabae
090309