Minggu, 06 September 2009

Masih Retorika ?

Sudahkah semua bisa tersenyum dengan tulus tanpa tersendat oleh lapar, dan tangis karena ketidakadilan?
Ampun TUHAN !
kami tak mau lagi ada bencana

Syarif Wadja Bae
Terminal Blok M
Minggu, 16 Agustus 2009

Dagangan Corong

Jenuh aku mendengar hasutan dari jantungmu yang berdebar cepat tak beraturan.
Aku tau, kau bahkan ingin memelukku dengan nafas lelahmu yg bernafsu untuk membentuk opini dan wacana celaka dengan mengusung prinsip dan moral yang kacau, yg kau jalankan saat Ibu-Ibu waspada terhadap anak-anak mereka yang beranjak dewasa.
Kau corong yang tak berguna.
Lebih berguna corong bensin dan minyak tanah bagi Tukang ojek, Sopir angkot, dan Penjual gorengan.
Kau menyesatkan !!

Awal Agustus 09

Kamis, 06 Agustus 2009

Di Surga Dunia yang Ter,..

Tempat yg mereka sebut surganya surga dunia itu kembali berdebu tebal, debunya melebihi tebal kulit badak.
Di surganya dunia itu Ibu-Ibu kembali menangis hingga airmata mereka kering, bercampur debu di pipi dan membungkam bibir manis mereka.
Pertanyaan unik kembali mereka sebut; kenapa di tempat yg orang-orang sebut surganya dunia ini dipadati teka-teki berbisa?
Sementara di balik layar sana, aktivis calo tersungging dengan dokumen palsu yg berisikan jutaan teka-teki yg tigabelas kali lipat lebih berbisa yg belum ditandatangani oleh sang penebar senyum pada Ibu-Ibu tadi.
Sebelumnya, dari tempat datangnya mentari di surganya dunia itu, tercium bau logam yg beratus-ratus windu berubah menjadi bau darah yg menempel pada belati yg merobek-robek jingga sanubari mereka yg selalu sabar akan pemerkosaan terhadap prinsip yg berulang-ulang.
Aku ingat cerita temanku tentang amarah bapaknya yg mengatakan; di surganya dunia itu sebaiknya penghuni yg telah berusia dewasa hingga yg paling tua dibunuh semua, agar yg hidup dan tinggal disitu hanya remaja & anak2 yg tidak tahu segala macam teka-teki berbisa.
Tapi aku heran, kenapa di surganya dunia itu sering terjadi kekacauan? Dan kenapa bapak dari temanku tadi berkata begitu?
Bukannya surga tempat yg teraman, tertentram, terindah dan segala yg paling ter, yg positif untuk umat manusia? Apa harus tanya kenapa?

Syarif Wadja Bae
Juli 2009

Jumat, 03 Juli 2009

MUAK

Pada suatu senja kulihat suasana penuh ambigu ditengah pilu yg menjadi pengalaman bisu berulang-ulang. berkumpul di lapangan dikelilingi bendera-bendera palsu. Tiba-tiba debu berputar-putar berbentuk kerucut terbalik menghisap semuanya, menembus bumi tapi susahnya setengahmati. Beberapa kali terpental keatas, ditolak muntah bumi berupa do'a veteran & generasi yg tersakiti oleh senjata api & janji-janji. Gemetar kantung mataku. Sekuat tenaga, aku berteriak; ASU !!!

Syarif Wadja Bae. Sabtu, 20 Juni,
di rumah MAINTEATER - Antapani - Bandung

Senin, 01 Juni 2009

talangan sungai yang kesekian kalinya

pada talangan sungai yang belum selesai kuhitung,
kau datang dengan isak tarianmu sambil membawa debu sembilan kantung.
dari embun, bara, dan air mata, debu itu kau kumpul setelah menyaksikan hancurnya sebuah kampung, yang membuat cekung pipimu berubah menjadi relung yang murung.
satu episode kembali memaksa bibirmu bingung dan matamu mendung.
arloji dan kalender mengepung kepalamu hingga kau terkurung.
tanya yang sama kembali kau ucap: kenapa kita selalu mau dijadikan kacung??


Syarif Wadja Bae
Mei 2009

Jumat, 15 Mei 2009

Terkamu Keliru

Kau yang selalu menyala dibalik tirai mataku, menerka dari belakang kacamu tentang sepiku. padahal sepiku telah pergi bersama kesunyian pada sekian teluk yang kutemui dalam jalanku kesini bersama kapal yang berselimutkan corak musim yang menempel tebal pada dinding - dinding pilu. yang kau terka itu cuma perhentian sejenak. seperti mati dalam sepuluh detak.

Dan kemudian berlari kembali dengan kencang bersama roda yang diiris miris pada jalan tragis. setelah itu amarahmua melotot, melompat kearah mereka yang bercanda dengan kaos Tuhan atas tampilan acak yang kau anggapa penat.


Syarif Wadja Bae
awal mei 2009

Jumat, 08 Mei 2009

2009, 09 Mei

sebelah hati itu pergi.
masuk kedalam ruang berisi.

awan berlari pada gelap biru menuju pagi.

dari ruang sepi, kutulis ini.
tentang sisa tali. yang tersangkut disebelah hati yang sunyi



Syarif Wadja Bae