Pada suatu senja kulihat suasana penuh ambigu ditengah pilu yg menjadi pengalaman bisu berulang-ulang. berkumpul di lapangan dikelilingi bendera-bendera palsu. Tiba-tiba debu berputar-putar berbentuk kerucut terbalik menghisap semuanya, menembus bumi tapi susahnya setengahmati. Beberapa kali terpental keatas, ditolak muntah bumi berupa do'a veteran & generasi yg tersakiti oleh senjata api & janji-janji. Gemetar kantung mataku. Sekuat tenaga, aku berteriak; ASU !!!
Syarif Wadja Bae. Sabtu, 20 Juni,
di rumah MAINTEATER - Antapani - Bandung
Jumat, 2009 Juli 03
Senin, 2009 Juni 01
talangan sungai yang kesekian kalinya
pada talangan sungai yang belum selesai kuhitung,
kau datang dengan isak tarianmu sambil membawa debu sembilan kantung.
dari embun, bara, dan air mata, debu itu kau kumpul setelah menyaksikan hancurnya sebuah kampung, yang membuat cekung pipimu berubah menjadi relung yang murung.
satu episode kembali memaksa bibirmu bingung dan matamu mendung.
arloji dan kalender mengepung kepalamu hingga kau terkurung.
tanya yang sama kembali kau ucap: kenapa kita selalu mau dijadikan kacung??
Syarif Wadja Bae
Mei 2009
kau datang dengan isak tarianmu sambil membawa debu sembilan kantung.
dari embun, bara, dan air mata, debu itu kau kumpul setelah menyaksikan hancurnya sebuah kampung, yang membuat cekung pipimu berubah menjadi relung yang murung.
satu episode kembali memaksa bibirmu bingung dan matamu mendung.
arloji dan kalender mengepung kepalamu hingga kau terkurung.
tanya yang sama kembali kau ucap: kenapa kita selalu mau dijadikan kacung??
Syarif Wadja Bae
Mei 2009
Jumat, 2009 Mei 15
Terkamu Keliru
Kau yang selalu menyala dibalik tirai mataku, menerka dari belakang kacamu tentang sepiku. padahal sepiku telah pergi bersama kesunyian pada sekian teluk yang kutemui dalam jalanku kesini bersama kapal yang berselimutkan corak musim yang menempel tebal pada dinding - dinding pilu. yang kau terka itu cuma perhentian sejenak. seperti mati dalam sepuluh detak.
Dan kemudian berlari kembali dengan kencang bersama roda yang diiris miris pada jalan tragis. setelah itu amarahmua melotot, melompat kearah mereka yang bercanda dengan kaos Tuhan atas tampilan acak yang kau anggapa penat.Syarif Wadja Bae
awal mei 2009
Jumat, 2009 Mei 08
2009, 09 Mei
sebelah hati itu pergi.
masuk kedalam ruang berisi.
awan berlari pada gelap biru menuju pagi.
dari ruang sepi, kutulis ini.
tentang sisa tali. yang tersangkut disebelah hati yang sunyi
Syarif Wadja Bae
masuk kedalam ruang berisi.
awan berlari pada gelap biru menuju pagi.
dari ruang sepi, kutulis ini.
tentang sisa tali. yang tersangkut disebelah hati yang sunyi
Syarif Wadja Bae
Rabu, 2009 April 15
kata - kata ini untukmu
tenggelamlah dalam samudra bening.
dan berikan tanda disana. tanpa merusak beningnya.
terserah, apa yang kau rangkai disana.
tetaplah hati-hati karena itu.. samudra. walau bening.
kalau bingung, bacalah puisi tentang kapas dan karma.
selimuti dengan angklung. biarkan angin yang memandumu.
karena aku tau kau tak bisa memainkan angklung.
kemudian pelan-pelan pejamkan matamu. lalu,
satukan bening matamu dengan bening samudra itu.
tetap hati-hati yaa.. (kalau bingung lagi, sebut namaku)
syarif wadja bae
april 2009
dan berikan tanda disana. tanpa merusak beningnya.
terserah, apa yang kau rangkai disana.
tetaplah hati-hati karena itu.. samudra. walau bening.
kalau bingung, bacalah puisi tentang kapas dan karma.
selimuti dengan angklung. biarkan angin yang memandumu.
karena aku tau kau tak bisa memainkan angklung.
kemudian pelan-pelan pejamkan matamu. lalu,
satukan bening matamu dengan bening samudra itu.
tetap hati-hati yaa.. (kalau bingung lagi, sebut namaku)
syarif wadja bae
april 2009
Jumat, 2009 Maret 20
dialog anak panah
daun yg hampir remuk...seratnya tersenyum,melempar asa untuk bertahan saat pancaroba tiba..senyumnya biasa,namun sukmanya seolah menarik kedua lenganku yg menjepit kepalaku yg diamuk palu...hehehe..:) hai daun remuk yg seratnya buatku tersenyum...aku ingin kita bicara tanpa takut pada waktu walau malam ingin menutup kelambu...tanpa siapa2...disana...ditempat yg membuat aku dan kau terbuai..bicara tak kenal lelah atas apa yg terbaca pada setiap apa yg buat kita hampir nyerah dan pasrah...mari kita bicara...terus bicara...hingga kau memanggilku; lelaki yg mampu keluar dari amukan palu....dan kau kembali menjadi daun muda...karena peraduan kharisma...:):)
syarif wadja bae//200309//
syarif wadja bae//200309//
Sabtu, 2009 Maret 14
Kementus
baru saja kita sama sepakat untuk berterus terang pada PhiloSophia, namun kau masih selalu bergantung dan mengharapakan bantuan Tuhan..bahkan berteriak-teriak kepadaNYA....
lalu, apa kau paham dengan ungkapanmu kepada PhiloSophia???
kenapa harus selalu berteriak pada Tuhan? sementara DIA sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi, lebih dekat dari darah yang mengalir dalam dirimu, dan lebih dekat dari nafas yg kau hirup!! dan itu bukan sebuah metafora belaka!!.
saat kau diterpa masalah, kau selalu berteriak; Tuhan tolong, aku ada Masalah, keluarkan aku dari masalah ini Tuhan.... tapi kenapa kau tidak berteriak; wahai masalah aku yakin bisa mengatasimu karena Tuhan selalu bersamaku walau aku juga sedang bersama dosa....
aku tidak mengatakan kau salah, tapi kau selalu terjebak oleh logikamu yg menjadikanmu naif... kemudian kau tambahkan dengan nalar matematikamu, yang kau sebut itu semua berangkat dari kalbumu.....hahaha:) kementus!!
Syarif Wadja Bae
14 Maret 2009
Langgan:
Entri (Atom)