Malam memang tak sepi.
Seperti taman yg mengajak semua bunga untuk tumbuh bersama ditengah teror kota.
Gelapnya Malam adalah inspirasi menuju terang dengan sejuta senyum sebagai jawaban pelaksanaan kata-kata.
Malam tak pernah salah.
Mungkin kita yg bingung karena ditabrak segala macam kebutuhan
yg sebenarnya secara esensi kita tidak butuh.
dan lalu kita merasa dikepung dalam gaung
hingga merasa terpojok murung disudut relung.
Sesungguhnya malam membuat kita paham tentang kesederhanaan.
Malam mengajarkan kejujuran.
Seperti kejujuran yg terungkap dibibir pantai bersama cahaya buih air laut.
Seperti melintas diatas laut, ditemani puisi bulan yg teduh.
seperti saat tubuh kita menjadi puisi
dan keadaan menjadi narasi yang meleburkan semua emosi,
seakan semua menjadi seksi
dan kita semakin lupa dengan doktrin doktrin yg sesak dengan basa basi.
Mungkin sesederhana saat kita tersenyum mengingat lagu indah yg kita nyanyikan.
Terimakasih malam
Syarif Wadja Bae
31 Oktober 2009. dini hari
Minggu, 01 November 2009
Lingkaran Sederhana
*Terimakasihku untuk Chairil Anwar dan W.S Rendra
Berangkat kesuasana tak bersuara,
tapi tidak menjadi suatu keniscayaan berlatar keakuan.
Menyelam jauh kedalam emosi yang menjelma menjadi teratai.
Dalam semak-semak rasa,
dia hidup, tumbuh, dan bersuara walau kadang tak menggema.
Meliuk-liuk dalam bunga mata.
Jangan biarkan langkahmu lupa dan tak paham tentang jejak,
karena itu adalah guru.
Aku mengajakmu masuk kedalam lingkaran sederhana,
seperti sapa embun dan sumringah melati.
Tujuannya bukan kemenangan,
tapi mengerti tentang arti,
karena hidup cuma sekali.
Syarif Wadja Bae
pagi 14 Okt 2009
Berangkat kesuasana tak bersuara,
tapi tidak menjadi suatu keniscayaan berlatar keakuan.
Menyelam jauh kedalam emosi yang menjelma menjadi teratai.
Dalam semak-semak rasa,
dia hidup, tumbuh, dan bersuara walau kadang tak menggema.
Meliuk-liuk dalam bunga mata.
Jangan biarkan langkahmu lupa dan tak paham tentang jejak,
karena itu adalah guru.
Aku mengajakmu masuk kedalam lingkaran sederhana,
seperti sapa embun dan sumringah melati.
Tujuannya bukan kemenangan,
tapi mengerti tentang arti,
karena hidup cuma sekali.
Syarif Wadja Bae
pagi 14 Okt 2009
Minggu, 04 Oktober 2009
SENJA DI AWAN
Saat awan mengecup senja.
Perlahan gelap, menuju malam.
Sebuah cerita singkat kampung halaman ditelan bersama hilangnya terang.
Hanya sedikit yang tertuang dalam cangkir kalbu ini.
Sedikit yang sangat membekas.
Syarif Wadja Bae
*28 Sept 09
Perlahan gelap, menuju malam.
Sebuah cerita singkat kampung halaman ditelan bersama hilangnya terang.
Hanya sedikit yang tertuang dalam cangkir kalbu ini.
Sedikit yang sangat membekas.
Syarif Wadja Bae
*28 Sept 09
AYO MAJU
Apa tidak ada yang baru, yang tidak membuat otak jadi buntu?
Otakmu buntu bukan karena aku..
Tapi karena kamu kaku, ragu, dan lama tenggelam dalam bisu.
Diam itu tak akan jadi emasmu kalau kamu tak bertanya dan berkaca pada lubuk sanubarimu.
Orang-orang berani bergumul dengan deru.
Orang-orang telah mengerti bahasa debu.
Tapi kau ?
Dengar aku; beberapa bulan lalu,..
Saat aku menerobos keluar dari ruang itu,
Aku selipkan kunci yg sama di kotak kayu di samping pintu itu.
Ayo kawan, sekarang saatnya kita maju !!
Syarif Wadja Bae
Di Atas Kereta Api Gumarang saat berhenti di Semarang
16 September 2009
Otakmu buntu bukan karena aku..
Tapi karena kamu kaku, ragu, dan lama tenggelam dalam bisu.
Diam itu tak akan jadi emasmu kalau kamu tak bertanya dan berkaca pada lubuk sanubarimu.
Orang-orang berani bergumul dengan deru.
Orang-orang telah mengerti bahasa debu.
Tapi kau ?
Dengar aku; beberapa bulan lalu,..
Saat aku menerobos keluar dari ruang itu,
Aku selipkan kunci yg sama di kotak kayu di samping pintu itu.
Ayo kawan, sekarang saatnya kita maju !!
Syarif Wadja Bae
Di Atas Kereta Api Gumarang saat berhenti di Semarang
16 September 2009
YANG MELENGKAPI
Seperti sempurnanya lagu yang kau nyanyikan,
sajak itu begitu mengendap jauh kedalam cahaya mata rasa.
Untuk keseratus kalinya peraduan itu terus membuat kita berkaca pada laut dan tanah.
Semoga kita tak saling mencuri kemurnian.
Sudah terlalu banyak novel yang menulis tentang penghianatan.
Jangan pernah kita sepakat untuk membangun piramida disetiap orde.
Mari kita bersekutu dengan waktu, menyatukan pendapat dengan musim, membungkus keadaan dengan senyum cemerlang, hingga sedih tak mau datang lagi.
Mungkin bagi mereka tidak berwarna, tapi dengan begitu kita punya warna sendiri.
Warna yang tak bisa dibeli.
Syarif Wadja Bae
Sept 09
sajak itu begitu mengendap jauh kedalam cahaya mata rasa.
Untuk keseratus kalinya peraduan itu terus membuat kita berkaca pada laut dan tanah.
Semoga kita tak saling mencuri kemurnian.
Sudah terlalu banyak novel yang menulis tentang penghianatan.
Jangan pernah kita sepakat untuk membangun piramida disetiap orde.
Mari kita bersekutu dengan waktu, menyatukan pendapat dengan musim, membungkus keadaan dengan senyum cemerlang, hingga sedih tak mau datang lagi.
Mungkin bagi mereka tidak berwarna, tapi dengan begitu kita punya warna sendiri.
Warna yang tak bisa dibeli.
Syarif Wadja Bae
Sept 09
Minggu, 06 September 2009
Begitu Saja
Percikan kata-kata berhamburan hingga beranda.
Bersama sebuah kotak kecil diantara barisan bunga.
Dalam satu detik jeda.
Terlahir dari titik pusat serupa simalakama.
Karena mata.
Lalu lupa begitu saja.
Cepat atau lambat, keheningan akan membuat kita merinding dan kembali mengingat semua
syarif wadja bae
Agustus 2009
Bersama sebuah kotak kecil diantara barisan bunga.
Dalam satu detik jeda.
Terlahir dari titik pusat serupa simalakama.
Karena mata.
Lalu lupa begitu saja.
Cepat atau lambat, keheningan akan membuat kita merinding dan kembali mengingat semua
syarif wadja bae
Agustus 2009
Yang Sederhana
Kembali pada suatu waktu kami bercumbu dalam lingkaran sederhana dengan kolak pisang kesukaan keluarga.
Bapak bercerita tentang hikmah makan bersama, sembari melirik ke arahku yang masih ngantuk karena sedikit repot untuk bangun pada pukul tiga saat sahur pertama tiba.
Rumah kami rumah yang kaya, bukan kaya harta, tapi kaya hati untuk berbagi dengan kerabat keluarga, terutama saat puasa.
Rumah kami rumah yang megah, bukan megah karena mewah, tapi megah oleh senyum yang merekah sebagai sedekah. Rumah itu bagai magnet untukku.
Aku ingin buka puasa dan lebaran di sana.
Di rumah itu bertebaran melati yang kami petik dari langit hati Orang Tua kami.
Mama, Bapak, Kakak, Ponakanku yang manis, sahabat dan teman-teman semua, maaf lahir bathin. Mari kita Puasa
syarif Wadja Bae
Jumat, 2009 Agustus 21
Langgan:
Entri (Atom)